Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Sabar Menghadapi Penderitaan

Kesabaran dalam Menghadapi Penderitaan adalah Penting dalam Tarekat ini (Bagian 2)


Nabi ﷺ bersabda, “Aku adalah orang yang paling banyak mendapat penganiayaan dan siksaan dari kerabatku."  Jadi, di mana kita berdiri?  Jika kita mendapat siksaan sedikit saja, kita menjadi kalap!  "Barang siapa yang tidak sabar, ia tidak akan menerima `athaa-Allah.” Allah (swt) ingin agar kalian memiliki kesabaran.  Sayyidina Adam (as) sabar; beliau melakukan sujud selama 40 tahun dan tidak pernah mengangkat kepalanya sampai Allah (swt) mengatakan kepadanya, "Engkau telah diampuni."   

Di lain pihak, Iblis tidak sabar dan cepat mengeluh.  Ia mengatakan, "Kau membuatku melakukan dosa!"  Adam (as) tidak mengatakan apa-apa dan langsung bersujud memohon ampunan Allah. 

Jika kita menghadapi masalah, apakah kita segera melakukan sujud?  Tidak!  Malahan bila kita mempunyai senapan, kita akan menggunakannya.  "Jika kalian membuang kesabaran, berarti kalian tidak sabar atas kesabaran kalian, kalian tidak terima dan kalian telah menutup pintu ridha Allah.  Kemudian menjadi tanda tanya besar apakah kalian akan meninggalkan penghambaan kalian."  Pada saat itu kalian bukan menjadi hamba Allah (swt), tetapi menjadi hambanya Syaithan!

Nabi ﷺ bersabda:

من لم يرض بقضائى، ولم يصبر على بلائي، فلْيتَّخذ ربًّا سِوَاىَ

man laa yardhaa bi qadhaa'ii wa lam yashbir `ala balaa'ii fa ’l-yattikhadz rabban siwaa’ii.

"Barang siapa tidak ridha dengan qadha-Ku,  dan tidak bersabar atas segala cobaan-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku." (Ibn Asakir)

Jadi kalian mempunyai pilihan, apakah menerima dan diberkahi oleh Allah (swt) atau menolak dan meninggalkan jalan ini dan beralih kepada Syaithan!  Awliyaullah menunjukkan kita jalan untuk menerima perjuangan ini dan bersabar demi Nabi ﷺ, untuk memperbaiki kesalahan kita.  

Semoga Allah (swt) memberi kesabaran kepada kita dan memberkahi kita dan memberkahi pertemuan ini demi Nabi-Nya ﷺ.

Bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani 

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas