Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Motivasi Tahajud

Wahab bin Munabih

“Manusia yang paling dicintai setan adalah manusia yang gemar makan dan tidur.”

(Wahab bin Munabih)

Uwais Al-Qarni

“Sungguh aneh orang yang mengetahui bahwa surga dihiasi atasnya dan neraka itu dipanasi bawahnya, bagaimana dia bisa tidur diantara keduanya ?”

 (Uwais Al-Qarni)

Tamim Ad-Dari

”Demi Allah, shalat satu rakaat yang kukerjakan pada sepertiga akhir malam secara diam-diam lebih aku senangi dari pada shalat semalam suntuk yang kukerjakan, kemudian aku menceritakannya kepada orang lain”

(Tamim Ad-Dari)

Syeikh Waliyullah Ad-Dahlawi

“ Begadang mempunyai khasiat menakjubkan dalam melemahkan sifat kebinatangan. Ia serupa dengan anti toksin. Oleh karena itu, menjadi kebiasaan sekelompok orang apabila ingin menjinakkan binatang buas dan mengajarinya berburu, mereka harus membuatnya begadang dan lapar terlebih dahulu. Jika demikian halnya, tentu shalat tahajud lebih penting untuk di perhatikan.”

(Syeikh Waliyullah Ad-Dahlawi)

Sulaiman bin Tharkhan

“Mata itu jika dibiasakan tidur akan terbiasa tidur. Namun jika dibiasakan bangun akan terbiasa bangun.”

(Sulaiman bin Tharkhan)

Salafush shalih

Tidak ada kenikmatan di dunia ini yang bisa menyamai kenikmatan yang dirasakan oleh penghuni surga, kecuali kenikmatan bermunajat yang dirasakan oleh orang-orang yang senantiasa merendahkan diri dihadapan Allah SWT pada waktu malam”.

(Salafush shalih)

Muslim bin Yasar

 ”Tidak ada kenikmatan yang dirasakan manusia yang mampu menandingi kenikmatan menyendiri dalam bermunajat kepada Allah.SWT”

(Muslim bin Yasar)

Mukhlid bin Al-Husain

“Setiap kali bangun malam, aku mendapati Ibrahim bin Adham sedang berdzikir kepada Allah dan mengerjakan shalat. Aku merasakan iri dan sedih karena tidak bisa seperti dirinya. Kemudian aku menghibur diri dengan ayat, ‘Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.’

(Mukhlid bin Al-Husain)

Mu’adzah Al-‘Adawiyah

“Wahai diriku! Kelak engkau akan tidur. Jika telah masuk kubur, engkau akan tidur panjang; baik dengan merasa sedih atau gembira. apabila mengantuk ketika sedang shalat, dia pun mengelilingi rumahnya sambil berkata kepada dirinya sendiri seperti diatas.”

(Mu’adzah Al-‘Adawiyah)

“Shalih datang ke tempat tidurnya dari ruang shalat di rumahnya dalam keadaan lelah. Dia mengajarkan qiyamul lail hingga lemas. Oleh karena itu, dia datang ke tempat tidurnya kelelahan.”

(Mu’adzah Al-‘Adawiyah)

“Wahai diriku. Kelak engkau akan tidur, bukan sekarang.”

(Mu’adzah Al-‘Adawiyah)

Janji Seorang Murid Kepada Gurunya

“Wahai guruku. Selama hidupku, aku tidak akan tidur pada malam maupun siang, selama aku mampu.”

(Janji seorang murid kepada Gurunya)

(Umar bin Khaththab)

“Seandainya bukan karena tiga perkara, aku tidak ingain hidup di dunia ini. Yaitu

seandainya bukan karena menunggang punggung kuda di jalan Allah, beribadah di malam hari, dan bergaul dengan orang-orang yang memilih kata-kata yang baik sebagaimana mereka memilih buah-buahan yang baik.”

(Umar bin Khaththab)

‘Apakah   kalian lebih  senang ngobrol  pada permulaan  malam dan  tidur  pada akhir malam? “

(Umar bin Khaththab)

(Sufyan Ats-Tsauri)

“Kurangilah makan, niscaya kalian mampu mengerjakan qiyamul  lail,”

(Sufyan Ats-Tsauri)

“Engkau melihat orang yang tidak shalat malam merasa malas dan gelisah. Dia seperti bangkai yang berada di atas tempat tidurnya. Siang harinya, dia banyak bermain-main. Sementara itu, engkau melihat orang yang mengerjakan qiyamul lail senantiasa tunduk karena takut kepada Allah. Hatinya pun merasa gembira.”

 (Sufyan Ats-Tsauri)

“Jika datang malam, aku bergembira. Namun jika datang siang, aku bersedih.”

  (Sufyan Ats-Tsauri)

Thawus

“Kok sempat-sempatnya orang tidur menjelang subuh? “

(Thawus)

Muhammad bin Thalhah bin Mushrif

“Bapakku selalu memerintahkan istri, pembantu, dan anak-anaknya untuk qiyamul lail. Dia berkata, ‘Shalatlah di pertiga malam meski hanya dua rakaat. Sesungguhnya shalat di pertiga malam akan menggugurkan dosa-dosa. Shalat di pertiga malam juga merupakan amalan orang-orang shalih yang paling mulia’.”

(Muhammad bin Thalhah bin Mushrif)

Malik bin Dinar

“Andai saja aku mampu untuk tidak tidur, tentu aku tidak akan tidur. Aku takut jika tiba - tiba turun adzab ketika sedang tidur. Andai aku mempunyai sejumlah pembantu, tentu akan aku sebar mereka ke seluruh penjuru dunia untuk menyerukan, ‘Wahai umat manusia! Takutlah neraka! Takutlah neraka!”

(Malik bin Dinar)

(Qatadah bin Du’amah As-Sadusi)

“ Wahai manusia! Jika engkau hanya mau melakukan kebaikan ketika merasa senang, maka jiwamu akan cenderung bosan. Seorang mukmin selalu melakukan kebaikan di saat lemah maupun kuat. Orang-orang mukmin selalu berdoa kepada Allah pada siang maupun malam. Mereka terus memanjatkan doa,’ Wahai Rabb kami! Wahai Rabb kami!’, disaat sepi maupun ramai sampai Allah mengabulkannya”

(Qatadah bin Du’amah As-Sadusi)

 “Orang munafik sedikit sekali bangun di malam hari.”

(Qatadah bin Du’amah As-Sadusi)

Hamba Shalih

“Betapa banyak orang yang mengerjakan shalat karena Allah pada malam ini diberi rasa senang di kuburnya yang gelap. Betapa banyak orang yang tidur pada malam ini menyesali tidur panjangnya ketika melihat anugerah yang Allah berikan kepada para ahli ibadah kelak. Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu dan hari yang terus berlalu. Semoga Allah merahmatimu.”

(Hamba Shalih)

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi

 “Dunia adalah toko bagi orang-orang mukmin. Siang dan malam adalah modal mereka. Amal shalih adalah dagangan mereka. Surga yang kekal adalah keuntungan mereka. Neraka yang abadi adalah kerugian mereka” 

Istri Marsuq bin Al-Ajda

“Demi Allah, pasti setiap pagi kedua kaki Marsuq bengkak karena terlalu lama mengerjakan shalat pada malam harinya. Apabila lelah, dia mengerjakan shalat dengan duduk dan tidak meninggalkannya. Seusai shalat, dia merangkak ke tempat tidurnya seperti onta.” (Istri Marsuq bin Al-Ajda’ bercerita tentang suaminya)

(Muhammad bin Shalih)

“ Jika engkau ingin bergabung bersama kafilah orang-orang mulia, maka kurangilah tidur dan kerjakanlah amalan orang bertakwa “

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas