Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Keutamaan Tafakkur

Nabi ﷺ bersabda, 

تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة

Tafakkarru saa`atin khayrun min `ibaadati saba`iin sannah.

Mengingat Allah (swt) (tafakur atau meditasi atau kontemplasi) selama satu jam adalah lebih baik daripada tujuh puluh tahun ibadah.

Dengan tafakur selama satu jam atau bahkan sesaat, kalian akan diberi ganjaran melebihi tujuh puluh tahun ibadah.  Itu adalah hadits Nabi ﷺ.  Bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa meditasi atau tafakur itu tidak ada padahal ayatnya mengatakan, "Ketika kalian melakukan perbuatan dosa, pergilah kepada Nabi Muhammad ﷺ.” Dan bagaimana kita melakukannya?  Kita dari sini, kita duduk melakukan meditasi melalui Syekh kita karena beliau berada dalam hadirat itu, beliau berada dalam hadirat yang tercerahkan itu, beliau berada dalam makrifat itu, beliau ada di level tersebut! 

Jika beliau mengatakan, "Yaa Sayyidii, Yaa Rasuulallah ﷺ!” Nabi ﷺ akan menjawabnya!  Atau jika beliau mengatakan, “Yaa Rabbii!” Allah akan menjawab, “Yaa `abdii, apa yang engkau inginkan?” “Yaa Rabbii, aku memohon ampunan-Mu." Jadi bagaimana cara melakukannya?  Apakah dengan duduk di depan TV sambil membaca astaghfirullah atau duduk sambil bertafakur, menghubungkan hati kalian dengan hati Syekh dan dari Syekh kepada Nabi ﷺ? 

“Mereka menganiaya diri mereka sendiri, lalu datang kepadamu yaa Muhammad, dan dalam hadiratmu mereka memohon ampun kepada Allah!”

Jadi agar tobat kita diterima, kita harus berada dalam hadirat Nabi ﷺ, tetapi kita tidak bisa berada di hadirat Nabi ﷺ dengan situasi kita.  Kita harus duduk, bermeditasi (tafakur), bukannya membayangkan, tetapi memikirkan tentang hubungan kalian, dan konsentrasi pada Syekh kalian.


Mawlana Shaykh Hisham Kabbani 

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas