Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Seorang pandai besi yang kebal terhadap api

Cerita-cerita para wanita salehah seperti Rabi'ah pada zaman dahulu banyak sekali.

Diceritakan oleh sebagian ulama, bahwa ada seorang lelaki tukang besi. Dia sering memasukkan tangannya pada api yang menyala-nyala. Kemudian dia didatangi seorang lelaki untuk membuktikan berita itu. Lelaki ini lalu menanyakan kepada tukang besi. Setelah melihat dan menyatakan apa yang didengarnya, ia menunggu hingga selesai pekerjaan tukang besi. Setelah tukang besi menyelesaikan pekerjaannya, tamu itu mengucapkan salam dan tukang besi itu pun membalasnya.

Lelaki itu berkata, “Aku ingin menjadi tamumu pada malam ini."

Tukang besi itu berkata, "baiklah, saya senang sekali dan saya akan menghormati.”

Kemudian lelaki itu diajak pulang ke rumah tukang besi, ia dijamu makan sore dan bermalam berkumpul dengan tukang besi. Ternyata dia tidak beribadah kecuali salat fardhu dan tidur hingga subuh.

Lelaki tadi berkata dalam hatinya, “Barangkali tukang besi itu menutupi ihwalnya terhadapku pada malam ini." Lelaki itu bermalam lagi satu malam, ternyata tukang besi itu masih seperti biasanya, tidak menambah ibadahnya sama sekali kecuali salat fardhu. 

Kata lelaki pada tukang besi, “Hai saudaraku, aku telah mendengar bahwa engkau diberi kemuliaan oleh Allah, dan akupun melihat sendiri kemuliaan itu. Namun, aku merenung karena aku tidak melihat banyaknya amal yang engkau lakukan, engkau tidak beramal selain salat fardhu, dari mana engkau memperoleh kemuliaan seperti itu."

Tukang besi itu menjawab, "Wahai saudaraku, pernah kualami cerita yang aneh dan perkara yang jarang terjadi. Ceritanya begini, saya mempunyai tetangga wanita cantik. Terus terang saya mencintainya.

Berkali-kali wanita itu saya rayu, tetapi tidak pernah berhasil. Karena dia memagari dirinya dengan memelihara kehormatan diri. 

Lalu pada suatu masa, timbul musim peceklik. Para manusia umumnya merasa lesu. Suatu hari saya duduk di rumah. Tiba-tiba ada seorang mengetuk pintu. Saya pun keluar sambil menanyakan siapa yang mengetuk pintu. Tiba-tiba wanita cantik itu berdiri di pintu seraya berkata,

“Wahai saudaraku, aku sangat lapar. Apakah Anda dapat memberikan makanan padaku karena Allah?”

Jawabku, "Aku tidak dapat memberikan makanan padamu, kecuali jika engkau menyerahkan dirimu kepadaku. Apakah Anda tidak tahu persaan apa yang. ada di dalam hatiku. Apakah kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu?"

Sahut wanita itu, "Aku memilih mati daripada durhaka kepada Allah."

Wanita itu lalu kembali ke rumahnya. Setelah dua hari, dia kembali kepadaku dan mengatakan kepadaku seperti dahulu. Lalu saya jawab seperti yang lalu. Kemudian wanita itu masuk dan duduk di dalam rumah dalam kondisi rusak tubuhnya hampir mati. Setelah saya meletakkan makanan di mukanya, maka matanya mencucurkan air mata seraya berkata, "Wahai saudaraku, aku telah berupaya tidak bisa datang kepada selainmu. Apakah engkau dapat memberikan makanan untukku karena Allah."

Jawabku, "Tentu saja engkau kuberi makan asal kamu mau menyerahkan dirimu kepadaku."

Wanita itu lalu menundukkan kepalanya sebentar terus mamasuki rumah dan duduk, kemudian saya berdiri menyalakan api untuk memasak makanan buat wanita tadi. Setelah makanan itu saya letakkan di hadapannya, belas kasihan Allah Ta'ala membuyarkan niatan jelekku. 

Saya berkata dalam hati, "Celaka engkau hai diriku ini. Wanita ini kurang akalnya, kurang agamanya, tidak memakan yang bukan miliknya. Dia berulang kali datang di rumahku karena kelaparan, tetapi dirimu tidak mau menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah Ta'ala."

Saya lalu berdoa, “Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu dari perbuatan dosa yang kulakukan. Aku tidak akan mendekati wanita itu selamanya."

Kemudian saya menjumpai wanita itu, tetapi ia tetap tidak mau makan. Kataku, "Makanlah, tidak usah takut-takut. Sebab makanan ini saya berikan karena Allah."

Setelah mendengar pengakuanku, lalu ia meng angkat kepalanya ke langit seraya berdoa, “Ya Allah jika lelaki ini benar ucapannya, semoga Engkau mengharamkan api buat dirinya di dunia dan akhirat."

Lelaki itu melanjutkan ucapannya, “Wanita itu lalu kutinggal pergi untuk memadamkan api.”

Pada waktu itu kebetulan musim penghujan. Lalu aku menginjaki bara api, tetapi tidak merasa panas dan tidak membakar kulitku. Kemudian aku memasuki rumah dan menjumpai wanita tadi dalam keadaan senang, seraya kukatakan, “Bergembiralah, karena Allah mengabulkan doamu."

Wanita tersebut seketika itu langsung melempar suapan makanan dari tangannya kemudian bersujud syukur kepada Allah dan berdoa, “Ya Allah, Engkau telah berkenan memperlihatkan kepadaku apa yang menjadi maksudku kepada lelaki itu. Semoga Engkau berkenan mencabut nyawaku saat ini.” Maka Allah mencabutnya, sedangkan ia dalam keadaan bersujud. Inilah ceritaku, wahai saudaraku! Allah Maha Mengetahui."

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas