Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

RASM AL-QUR’ĀN (SISTEM PENULISAN AL-QUR’AN)

APA ITU RASM AL-QUR’ĀN?

Rasm secara bahasa berarti penulisan. Secara istilah, rasm Al-Qur’ān adalah sistem penulisan yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an. Ada dua yang lazim digunakan, rasm usmani dan rasm imla’i (qiyasi).

APA ITU RASM USMANI?

Rasm Usmani ialah sistem penulisan Al-Qur’an sesuai dengan penulisan Al-Qur’an yang dilakukan pada masa khalifah Usman bin Affan. Penamaan Usmani dinisbahkan kepada khalifah Usman bin Affan.

APA ITU RASM IMLA’I?

Rasm imla’i adalah sistem penulisan Al-Qur’an sesuai dengan kaidah Bahasa Arab. Dalam sistem penulisan Al-Qur’an, imla’i hanya terhadap kata-kata yang tidak memiliki bentuk tulisan baku. Sementara terhadap kata-kata yang masyhur dan baku seperti (الصلوة )tetap ditulis sesuai rasm usmani.

APAKAH PEMBAHASAN RASM USMANI MENCAKUP SELURUH 

TULISAN AYAT, TITIK HURUF, DAN HARAKAT?Pembahasan rasm usmani hanya pada batang tubuh huruf (jism al-ḥurūf) saja. Sementara tanda titik, huruf dan harakat termasuk dalam pembahasan ilmu asy-syakl (tanda harakat) dan ilmu aḍ-ḍabṭ (tanda baca).

APA ITU JISM AL-ḤURŪF?

Jism al-ḥuruf adalah batang tubuh huruf hijaiyah tanpa dilengkapi dengan titik (ḍabṭ) dan harakat (syakl) ( ىومىون )

APAKAH MUSHAF AL-QUR’AN CETAK DI DUNIA SAAT INI MEMILIKI RASM USMANI YANG BERBEDA-BEDA?

Ya, ada perbedaan rasm usmani dalam mushaf Al-Qur’an cetak yang beredar di dunia saat ini, dan masing-masing disesuaikan dengan riwayat rasm usmani yang diikuti. 

APAKAH RASM USMANI MEMILIKI BEBERAPA RIWAYAT?

Ya, rasm usmani memiliki dua riwayat utama. Pertama, riwayat imam Abū Amr ad-Dānī (w. 444 H) dengan kitabnya al-Muqni’ fī Ma’rifati Marsūm Maṣāḥif al-Amṣār yang antara lain diterapkan pada Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia, mushaf Libya, mushaf Pakistan, dan lain-lain. Kedua, riwayat imam Abū Dāwud Sulaimān ibnu Najāḥ (w. 490 H) dengan kitabnya at-Tabyīn li Hijā’ at-Tanzīl, antara lain diterapkan pada mushaf Mesir, mushaf Madinah, dan sebagian besar negara di kawasan Timur Tengah. 

SEJAK KAPAN ISTILAH RASM USMANI DIKENAL?

Istilah rasm usmani dikenal setelah dilakukan pembukuan mushaf Al-Qur’an kedua pada masa khalifah Uṡmān bin ‘Affān tahun 30 H. yang diketuai oleh Zaid bin Ṡābit.

BOLEHKAH MENULIS MUSHAF AL-QUR’AN MENGGUNAKAN SELAIN RASM USMANI?

Ada tiga pendapat besar para ulama terkait pertanyaan ini,

1. Al-Qur’an wajib ditulis dengan rasm usmani, karena rasm usmani adalah sunnah muttaba’ah dari para sahabat (akan tetapi bukan tauqīfī dari Nabi). Pendapat ini disandarkan pada Mālik bin Anas (w. 179 H/795 M), Yaḥyā an-Naisābūrī (w. 226 H/ 840 M), Aḥmad bin Ḥanbal (w.241 H/854 M), Abū ‘Amr ad-Dānī (w. 444 H/ 1051 M), ‘Alī bin Muḥammad as-Sakhāwī (643 H/ 1244 M), Ibrāhīm bin ‘Umar al-Jābirī (w. 732 H/1331 M), dan Aḥmad bin al-Ḥusain al-Baihaqī (w. 450 H/1065 M).

2. Al-Qur’an boleh ditulis dengan rasm imla’i (qiyasi) yang berkem-bang, namun bagi kalangan tertentu diharuskan masih tetap melestarikan pola penulisan Al-Qur’an dengan rasm usmani. Pendapat ini dikemukakan oleh ‘Izzuddīn bin ‘Abdissalām (w. 661 H/1266 M).

3. Al-Qur’an tidak wajib ditulis dengan rasm usmani, karena rasm adalah ijtihadi (produk yang muncul dari hasil kebudayaan). Pendapat ini disampaikan oleh Abū Bakar al-Bāqlānī (w. 403 H/1013 M) dan Ibn Khaldūn (w. 808 H/ 1405 M)

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas