Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Mengenal Jati Diri

Bawalah dirimu mengenal jati dirimu

Sohbet Tanggal 15 Juli 2008

Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil al Qubrusi (qs)


Selamat datang! Syukr Allah! Kita bersyukur kepada Allah. Syukur dan kita mengucapkan: Asyadu an la ilaha ill-Allah wa asyadu anna Sayyidina Muhammadan 'abduhu wa habibuhu wa rasuluh saw. Kita adalah Muslim.

Sekarang ini, kita hidup dizaman dimana kejahilan telah menghinggapi semua orang. Dan begitu banyak manusia yang tidak menggunakan akalnya dan menolak hal-hal yang terkait dengan Islam. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak berakal. Dan kita mengucapkan: A'udzu bi-llahi mina syaitani rajim, Bismillahir Rahmanir Rahim. Itulah tandanya kaum Muslim.

Kita telah diperintahkan Allah SWT untuk lari dari musuh manusia yang paling berbahaya dan paling sulit, yaitu setan. Kita harus memohon pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa. Jika kita berusaha memerangi setan atau mempertahankan dirimu dari setan dengan kemampuan diri sendiri, maka hal itu tidak mungkin dilakukan. Tetapi kita harus memohon perlindungan dan naungan Allah Yang Maha Kuasa agar selamat (dari setan). Kalian tidak boleh lupa bahwa kalian adalah hamba dari Allah Yang Maha Kuasa. Siapa yang menciptakanmu? Tanyalah! Siapa yang merancangmu sedemikan rupa? Oh manusia, kau harus menanyakan hal ini dan harus berusaha mengajari dirimu demikian juga anak-anakmu. Tetapi setan selalu melakukan yang terburuk bagi seluruh manusia, menggunakan ratusan bahkan ribuan tipu daya dan menyiapkan beragam perangkap bagi manusia sehingga mereka lupa siapa dirinya, dan bagaimana manusia tercipta. Setan terus berusaha membuat manusia menjadi lalai. Tapi manusia tidak mau bertanya. Manusia menanyakan hal-hal yang tidak berguna, yang tidak ada rasanya. Sedangkan pertanyaan terpenting yang harus ditanyakan adalah: Siapakah aku? Bagaimana aku bisa tercipta? Dari mana aku berasal? Tidak seorangpun menanyakan itu. Dan manusia, universitas-universitas, dan sistem pendidikan tidak pernah peduli terhadap kitab-kitab suci, yaitu kitab-kitab surgawi. Mereka tidak memakai kitab-kitab itu, bahkan tidak menanyakan: "bagaimana orang mempelajari kitab-kitab suci itu?"

Mereka mengajarkan berbagai subyek omong kosong melalui ratusan buku, dan mereka mengajar hanya untuk membuat agar para muridnya tidak menanyakan siapakah diri mereka. Tidak! Begitu banyak cabang pengetahuan mereka. Tapi sesungguhnya semua itu bukanlah pengetahuan. Karena, kalaulah benar pengetahuan sejati, jika dipergunakan, maka setiap pengetahuan harus membawamu ke Hadirat Ilahiah Allah Yang Maha Kuasa! Itulah pengetahuan! Begitu banyak cabang pengetahuan, jika kalian menempuhnya, maka kalian harus mencari beragam buku-buku pengetahuan. Manusia sekarang ini hanya melihat tampilan luar (fisik) dari pepohonan. Mereka tidak tertarik pada bagaimana terjadinya apel. Kita memikirkan bagaimana sebuah pohon kering dimusim dingin. Kita berpikir: Oh, pohon itu sudah mati, tidak ada lagi daunnya atau buahnya. Atau, kita melihatnya sekedar sebagai pohon kering. Namun ketika musim semi tiba, manusia terkejut dan berkata: Oh, kemarin kita kira pohon ini sudah kering, sekarang daun dan buahnya sudah mulai tumbuh, dan pohon ini semakin terlihat bagus. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tidak pernah mereka tanyakan!

Mereka berkata: Ah, itu dia pohon apel yang sudah mulai berbuah. Sebelumnya kita kira pohon itu sudah kering. Tapi sekarang kita lihat sudah tumbuh daun-daunnya yang baru, bunga-bunga baru dan setelah bunga muncul banyak jenis buah! Mereka tidak bertanya tentang ini, tidak memikirkannya! Maka saya (Maulana Syaikh Nazim) ingin bertanya pada kalian: Ya Hu, mengapa kalian tidak bertanya kepada pohon cemara, "Mana buahmu?, dimanakah bungamu?" Mereka juga punya buah dan bunga tetapi tidak tampak sebagaimana pepohonan yang lain.

Umat manusia sekarang ini mabuk, dan kemabukkan itu berasal dari kelalaian mereka, berasal dari kebodohan mereka, dilakukan oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal mereka. Jika mereka menggunakan akalnya, maka mereka akan menemukan begitu banyak hal. Tapi mereka tidak menggunakannya. Mereka hanya tertarik pada penampilan luar dari segala sesuatu.

Sekarang, mari kita bicara tentang umat manusia. Bagaimana manusia diciptakan? Apa yang terjadi? Sepasang suami istri berkumpul, kemudian lahirlah seorang bayi, 9 bulan kemudian ditambah beberapa hari. Mereka tidak memikirkan hal itu. Siapa yang sanggup melakukan hal tersebut. Tidak seorangpun bertanya. Itulah semua pengetahuan, mereka tidak pernah berpikir atau bertanya untuk mempelajari sesuatu, mereka berkata: Alami ..., alami... Jalan mereka menuju neraka dengan alami!

Apakah yang terjadi? Pada bumi yang kering diturunkanlah hujan. Dan bumi yang kering itu mulai membawa begitu banyak tumbuhan, berbagai jenis bunga dan tumbuhan dan pepohonan. Apakah yang terjadi? Ini hanyalah bumi. Kemudian diturunkanlah hujan dari langit. Bagaimana bunga-bungaan ini muncul?

Mungkin kalian belum dilahirkan sewaktu saya berziarah ke Madinah Munawwarah -ala sakina afdala shalat wa taslim- kota suci Nabi (saw) bersama Grandsyaikhku (Syaikh Abdullah al Faizi ad-Daghestani), itu mungkin sekarang sudah lebih dari 50 tahun yang lalu. Saya pergi dengan Grandsyaikh untuk khalwat di tanah yang Allah Yang Maha Kuasa telah karuniakan kesuciannya dimuka bumi ini. Kami datang dari Damaskus ke kota suci Nabi (saw). Kami datang mengendarai mobil untuk mencapai kota suci ini dan kami melintasi padang pasir. Seluruhnya pasir, berpasir, tidak ada apa-apa diatasnya. Kita lalui padang pasir itu dan tibalah di kota suci Nabi. Lalu, seperti yang diperintahkan, kami melakukan khalwat. Khalwat membawa manusia dari luar diri mereka ke dalam diri mereka sendiri. Sekarang, sebagian besar mata manusia tertuju pada apa yang ada disekitar diri mereka. Mereka melupakan diri mereka. Mereka tertarik dengan apa yang ada disekitar diri mereka. Janganlah begitu! Pertama awali dari dirimu sendiri! Perhatikan dirimu, kemudian perhatikan apa yang ada disekitarmu! Khalwat adalah membawa manusia dari luar dirinya menuju jati dirinya. Oleh karena itu, tidak seorangpun bisa menjadi seorang Delil, pembimbing ruhani.

Jika tidak mempunyai pembimbing, orang tidak mempelajari apapun. Kalian harus mencari seorang pembimbing untuk mendapatkan bimbingan. Karena, tanpa pembimbing, kalian tidak bisa mencari jalan untuk mengenal jati dirimu. Oleh karena itu, khalwat sangatlah penting. Ini hal paling penting yang menjadikan diri kita menggapai diri kita sendiri. Jika kalian tidak mencari seorang pembimbing, dan kalian hidup selama 70, 80 atau 90 tahun, atau kurang dari itu. Tetapi (ingat) kalian akan meninggalkan (dunia ini), dan kalian tidak tahu apa-apa tentang diri kalian sendiri.

Oleh karenanya, Allah Yang Maha Kuasa mengutus para Nabi-Nya: untuk membuatmu mengetahui siapakah dirimu. Membawamu dari luar ke dalam, membawamu ke dalam dirimu sendiri. Jika tidak demikian, kalian adalah manusia bodoh seperti halnya berbagai binatang itu...

Sekarang ini manusia kagum pada (mereka yang bertitel doctor): Oh, itu doktor Z., doktor A., doktor S. - begitu banyak doktor... padahal para doktor itu tidak mengerti apa-apa. Oleh karenanya, Allah Yang Maha Kuasa mengutus Nabi pertama, Sayyidina Adam, sebagai pembimbing pertama bagi anak-anaknya. Dan setelah itu munculah para cucu beliau, cicit, dan cicit... hingga sampai Penutup para Nabi, yakni Sayyidina Muhammad (saw) dan akhirnya beliau (saw) diutus untuk membawa manusia kepada diri mereka sendiri, untuk membuat mereka mengenal siapa dirinya.

Pembimbing terakhir dan terbesar bagi umat manusia adalah Sayyidina Muhammad (saw). Bahkan jika kehidupan dimuka bumi ini akan berlangsung abadi, maka cukuplah beliau (saw) sebagai pembimbing manusia! Beliau sudah cukup menjadi pembimbing bagi milyaran, trilyunan orang yang akan hidup di bumi ini. Oleh karenanya, bimbingan dari beliau dianugerahkan Allah kepada beliau melalui Kitab Suci al Qur'an. Kitab Suci al Qur'an cukup bagi tiap bangsa untuk sepanjang masa. Hingga kehidupan yang abadi! Tidak diperlukan lagi seorang pembimbing baru dengan kitab baru. Tidak perlu. Kitab Suci al Qur'an cukup untuk membawa dirimu untuk mengenali dirimu! Itulah yang penting!

Benar, kita akan menuju tujuan itu, untuk membuka jalan. Grandsyaikhku memohon kepada Allah untuk membuka jalan bagiku untuk mengenal diriku. Saya melakukan khalwat selama 3 bulan kemudian kembali ke Damaskus, ketika aku selesai Grandsyaikh sudah ada disana. Atas perintah beliaulah saya datang ke Damaskus, dan saya melihat tanah-tanah yang tadinya gurun pasir, sekarang ditumbuhi bunga yang tidak terhitung warnanya! Bagaimana itu bisa terjadi? Sebabnya, karena saat kami berkhalwat, turunlah hujan. Hujan itu memberikan kehidupan dengan Perintah suci Surgawi.Tanah itu menjadi begitu indah karena ditumbuhi berbagai jenis bunga! Subhanallah, matahari memberikan berbagai warna pada bunga-bunga itu. Di Eropa, kalian bisa menemukan tanah-tanah yang ditumbuhi bunga, tapi tidak banyak jenisnya, mungkin hanya 5 atau 10 jenis saja. Tetapi dinegara-negara (padang pasir) itu, dengan perintah Suci Allah, matahari memberikan begitu banyak warna yang tidak terhitung, begitu banyak tumbuhan. Kita melihatnya kemudian saya berpikir: Ini bagaikan sebuah karpet, kita melangkah diatasnya, begitu indah! Oleh karenanya saya berkata...

Mengapa mereka tidak bertanya: Bagaimana hal itu terjadi? Apakah kekuatan rahasianya? Mereka berkata: Alami... Apa artinya alami? Alam dibawah kendali satu Malaikat... Saya malu mengatakannya, karena Allah Yang Maha Kuasa melihat... Jika Allah Yang Maha Kuasa memandang sekali ke bumi ini, maka bumi ini akan menjadi seperti Surga. Dan Wilayah-Nya, Wilayah Ilahiah Nya tidaklah terbatas...

Wahai manusia, datang dan pelajarilah hal ini sebelum datang kepadamu Malaikat Pencabut Nyawa yang akan menjemputmu dari kehidupan dunia ini ke alam kubur! Berusahalah untuk belajar sesuatu! Namun manusia ini hanya belajar bagaimana cara mereka meraih aspek-aspek materi melalui hidup ini dan target mereka hanyalah bagaimana caranya agar bisa memuaskan kesenangan jasmani mereka. Mereka mendapatkan lebih banyak uang. Untuk apa? (Tentunya) untuk memberikan lebih banyak kesenangan pada jasmani mereka. Dan ini bertentangan (dengan perintah Allah).

Jika seseorang tidak bersusah payah memenuhi kesenangan jasmaninya, maka mereka bisa hidup mencapai 70, 80, 90, 100 tahun! Tapi, bagi mereka yang hanya ingin memuaskan lebih banyak kesenangan jasmaninya, pergi dan belajarlah, pergi dan perhatikan pemakaman saat mereka wafat! Mereka berumur tidak lebih dari 60 atau 50 tahun...Wahai manusia, pikirkanlah!

Semoga Allah mengampuni kita... Ini cukup bagi semua orang yang mau memikirkannya. Jika manusia tidak menggunakan akalnya, maka dia seperti binatang. Binatang tidak berpikir. Perbedaan utama antara manusia dan binatang adalah manusia bisa berpikir, sedangkan binatang tidak berpikir. Dan barang siapa yang tidak berpikir terhadap hal-hal tadi, tingkatan mereka akan sama dengan "makhluk yang tidak berpikir", yaitu binatang.

Semoga Allah mengampuni dan mengakaruniai kita dari Samudera Berkah-Nya yang tidak ada habisnya untuk mengikuti para Nabi dan keturunannya. Demi kehormatan yang paling terhormat, Sayyidina Muhammad -damai atas beliau- (saw), Fatiha. 

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas