Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Mengapa Sayidina Ali ra, Karamallahu Wajhah Menunggang Keledai

Mengapa Sayidina Ali ra, Karamallahu Wajhah Menunggang Keledai 

Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani an-Naqshbandi

Ditranslasi dari buku Mercy Oceans

   


Bismillah hirRohman nirRohim

   

Adalah tugas kami untuk mengajari orang tentang kebaikan. Ini adalah kehormatan bagi seorang umat manusia. Kebaikan adalah benih yang bisa kalian tanam di hati. Dia tumbuh dan membuahkan kebaikan. Penanamnya yang pertama adalah para Nabi dan dilanjutkan oleh pewaris mereka, para Awliya ( Wali, saints). Kalian membutuhkan mereka untuk menanam kebaikan di hatimu. Ini adalah tanaman Grandsyaikhku Mawlana Syaikh Abdullah Faiz Daghestani qs yang tumbuh dihatiku dan kuberikan buahnya kepadamu. 

   

Suatu ketika Grandsyaikh Abdullah ( wafat 1974) berbicara tentang sepupu Nabi SAW, Sayyidina Ali ra, salah satu tokoh terbesar dalam Islam, yang mempunyai banyak perilaku yang baik yang diperoleh dari pengetahuan Nabi Sallallahu alaihi wasalam yang tak terbatas. Ketika beberapa teman Sayyidina Ali RA 

mempertanyakan mengapa beliau tidak mengendarai kuda, beliau menjawab: "Wahai 

saudara-saudaraku, aku tidak butuh kuda yang kencang untuk kukendarai karena ketika aku berjumpa seorang lawan untuk bertarung, aku tidak akan lari, berarti aku tidak butuh tunggangan yang bisa berlari kencang; dan jika lawanku hendak lari meloloskan diri dariku, aku tidak akan mengejarnya". 

   

Hal ini mengajari kita sifat kesatria. Ketika menghadapi sesuatu yang tidak kalian suka, kalian harus membulatkan tekadmu. Jangan coba untuk lari menghindar, tapi sabarlah. Dalam kehidupan kita sehari-hari mungkin saja kita 

bertemu dengan sesuatu yang tidak kita sukai. Manfaatnya adalah mempertajam keimanan. Jangan khawatir dengan sesuatu yang tidak disukai maka keimanan mu akan bertambah kuat. Jika pada langkah pertama kita bisa memperbaiki diri, maka langkah berikutnya akan lebih mudah. Iman kita bersinar, memancarkan cahaya. Kedua, ini merupakan pelajaran: kita jangan berharap untuk bertemu lawan, sampai Allah swt mempertemukan dan menyatukan kita. Jangan menggoda setan, mungkin saja keberuntungan dibawanya lari.   

   

Wa min Allah at Tawfiq 

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas