Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Kisah istri yang cerewet dan suami yang penyabar


Di ceritakan dalam kitab Uqudullujain, ada seorang laki-laki saleh yang mempunyai saudara yang saleh. la mengunjunginya setahun sekali. Suatu hari ia datang seraya, mengetuk pintunya. Istri orang yang saleh bertanya dari balik pintu, "Siapa?"


Sahutnya, "Saudara suámimu, karena Allah aku

datang untuk berkunjung."

Ucap wanita itu, "Suamiku pergi mencari kayu,

semoga tidak dikembalikan lagi ke sini oleh Allah."

Lalu wanita tadi benar-benar mencaci maki suaminya.


Di tengah-tengah wanita itu mencaci maki suaminya, tiba-tiba suaminya datang membawa sebongkok kayu yang diletakkan di punggung macan. Kayu itu lalu diturunkan dari punggung macan sambil berkata kepada macan, "Kembalilah kamu! semoga

Allah memberkatimu." Kemudian ia memasukkan

saudaranya yang berkunjung setelah mengucapkan salam menunjukkan kegembiraan kedatangan saudaranya, terus minta pulang dan merasa kagum dengan kesabaran saudaranya terhadap istrinya, karena sepatah katapun ia tidak menjawab ucapan caci maki istrinya itu.

Pada tahun yang kedua, saudaranya datang lagi

mengetuk pintu. Tanya wanita itu, "Siapa?”

Sahutnya, “Aku saudara suamimu datang untuk

berkunjung."

Jawabnya, "Baiklah, selamat datang, silakan."


Wanita itu benar-benar menyanjung orang yang datang mengunjungi suaminya seraya mempersilakan menunggu. Tak lama kemudian, saudaranya datang memanggul kayu pada punggungnya. Lalu ia dipersilakan masuk dan dijamu makanan. Ketika tamu itu akan pulang, ia sempat menanyakan keadaan wanita tadi dan wanita yang dahulu serta seekor macan yang membawakan kayunya. Jawabnya, “Wahai saudaraku, istriku yang jelek ucapannya itu sudah mati, aku selalu sabar menghadapi kejelekan ucapannya. Lalu Allah menundukkan macan kepadaku karena kesabaranku menghadapi istriku dahulu. Kemudian aku menikah dengan wanita salehah ini. Aku merasa enak dan tenang beserta wanita ini. Maka macan yang dahulu itu telah terputus dariku. Sehingga aku membawa kayu pada punggungku, karena aku merasa tenteram dan enak beserta istri wanita salehah ini.

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas