Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Larangan-larangan Wanita Haidh

Selama masa haidh berlangsung, ada beberapa hal yang wajib dihidari oleh seorang wanita, dan statusnya menjadi haram untuk dilakukan. Diantara hal-hal yang dilarang bagi wanita haidh adalah: 

1. Mengerjakan Shalat 

Semua ulama sepakat bahwa haram hukumnya bagi wanita haidh melaksanakan shalat. Karena menjadi syarat sah shalat adalah suci dari hadas besar maupun hadas kecil, dan haidh  termasuk hadas besar. Sehingga bagi wanita haidh tidak boleh shalat sampai benar-benar suci dari haidhnya. 

Ada dua hukum yang berlaku yang terkait dengan hukum shalat bagi wanita yang sedang haidh. 

a. Tidak Wajib

Bagi wanita haidh telah gugur kewajibannya untuk melakukan shalat. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa diharamkan baginya untuk mengerjakan ibadah shalat. 

b. Tidak Sah

Shalatnya wanita haidh, tidak akan sah. kalaupun shalat itu dikerjakan juga, maka hukumnya menjadi tidak sah atau diterima di sisi Allah.  Dalilnya: 

أنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهs إِنَّ دَمَ الحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلاةِ فَإِذا كَانَ الآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي 

"Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya"Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu janganlah shalat. Bila sudah selesai maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. (HR. Abu Daud dan An-Nasai).

Hadis yang lain: 

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ  وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

“Dari Aisyah r.a berkata : ‘Di zaman Rasulullah SAW dahulu kami mengalami haidh, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha’ salat (HR. Jama’ah). 

Dalam hadis di atas Aisyah memberitahukan bahwa nabi SAW menyuruh mereka mengqha puasa karena meninggalkan saat haidh tanpa memerintahkan mengqadha shalat. Istilah qadha hanya berlaku untuk suatu kewajiban yang tidak dilakukan pada waktunya. Artinya pelaksanaan shalat pada saat haidh itu tidak diperintahkan, dan setelah suci pun tidak diperintahkan untuk mengqadha, yang wajib diqadha hanya puasanya saja. 

Selain itu juga ada hadis lainnya: 

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ

“Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan shalat’ (HR. Al-Bukhari)

 أَلَيْسَ إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ 

Dari Abi Said Al-Khudhri radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda"Bukankah jika wanita itu haidh dia tidak boleh shalat dan puasa?". (HR. Bukhari dan Muslim) 

Larangan melakukan shalat ini, menurut madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali masuk di dalamnya tidak boleh melakukan amalan-amalan di dalam shalat, seperti sujud. Maka haram hukumnya bagi wanita haidh melakukan sujud syukur dan sujud tilawah dalam keadaan haidh. 

2. Berwudu’ atau Mandi Janabah

Larangan yang juga tidak diperbolehkan bagi wanita haidh adalah berwudhu dan mandi janabah. 

As-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa wanita yang sedang haid diharamkan berwudu’ dan mandi janabah.

Apabila ada seorang yang sedang mendapatkan haidh dan darah masih mengalir lalu berniat untuk bersuci dari hadats besarnya itu dengan cara berwudhu' atau mandi janabah seolah-olah darah haidhnya sudah selesai padahal belum selesai, hal ini dilarang dan merupakan sebuah kesia-siaan. Karena hakikat dari berwudhu atau mandi janabah adalah untuk mengangkat hadas besar, sementara wanita haidh selama darahnya masih keluar, hadas tersebut tidak akan terangkat dengan wudhu atau mandinya. Wudhu atau mandi hanya sah kalau haidnya telah benar-benar berhenti.  

3. Puasa 

Wanita yang sedang haid dilarang menjalankan puasa. Karena syarat sah dalam puasa salah satunya adalah suci dari haidh. Sehingga kalau wanita haidh berpuasa, menyebabkan puasanya tidak sah, melainkan wajib diulang atau diqadha di luar bulan Ramadhan. Dalil yang menunjukkan bahwasanya bagi wanita haidh tidak wajib puasa adalah

أَلَيْسَ إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ 

Dari Abi Said Al-Khudhri radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda"Bukankah bila wanita mendapat hatdh dia tidak boleh shalat dan puasa?". (HR. Bukhari dan Muslim)

4.Thawaf 

Semua ulama sepakat tidak diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid melakukan thawaf. Sedangkan semua praktek ibadah haji tetap boleh dilakukan. Sebab thawaf itu mensyaratkan seseorang suci dari hadats besar. Dasarnya adalah apa yang menimpa Aisyah radhiyallahuanha, dimana beliau mendapatkan haidh pada saat berhaji. Maka Rasulullah SAW bersabda :

افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لا تَطُوْفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Lakukan semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji, kecuali berthawaf disekeliling ka’bah hingga kamu suci (HR. Mutafaq ‘Alaih) 

Imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ menyebutkan : 

ويحرم الطواف لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنها اصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تطوفي ولانه يفتقر إلى الطهارة ولا تصح منها الطهارة. الشَّرْحُ حَدِيثُ عَائِشَةَ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ رِوَايَةِ عَائِشَةَ وَقَدْ أَجْمَع الْعُلَمَاءُ عَلَى تَحْرِيمِ الطَّوَافِ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ وَأَجْمَعُوا أَنَّهُ لَا يَصِحُّ مِنْهَا طَوَافٌ مَفْرُوضٌ وَلَا تَطَوُّعٌ وَأَجْمَعُوا أن الحائض والنفساء لا تمنع من شئ مِنْ مَنَاسِكِ الْحَجِّ إلَّا الطَّوَافَ وَرَكْعَتَيْهِ نَقَلَ الْإِجْمَاعَ فِي هَذَا كُلِّهِ ابْنُ جَرِيرٍ وَغَيْرُهُ والله أعلم * قال المصنف رحمه الله

“Bagi wanita haidh diharam untuk thawaf,  dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Aisyah radiallahu anha: kerjakanlah seperti apa yang dikerjakan orang yang sedang haji umumnya tetapi janganlah engkau thawaf, karena thawaf itu harus dikerjakan dalam keadaan suci. Maksudnya adalah dalam hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim ini para ulama telah sepakat akan haramnya thawaf bagi wanita haidh dan nifas, baik itu thawaf yang fardhu maupun sunnah. Dan mereka pun juga sepakat bahwa wanita haidh dan nifas itu tidak dilarang sepenuhnya melaksanakan ibadah haji kecuali thawaf dan shalat sunnah thawaf dan shalat sunnah 2 raka’at. Ini merupakan ijma’ para ulama.”

5. Menyentuh Mushaf dan Membawanya 

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Karim tentang menyentuh Al-Quran : 

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ المُطَهَّرُون

Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.’  (QS. Al-Waqi’ah : 79) 

Jumhur ulama madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga orang yang haidh dilarang menyentuh mushaf Al-Qur’an. 

Di antara dalil yang menguatkan adalah larangan Rasulullah SAW dalam surat yang beliau kirim kepada penduduk Yaman, dimana bunyinya :

لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

 Janganlah menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci. (HR. Ad-Daruquthnyi)

Ibnu Taimiyah mengecualikan menyentuh mushaf atau membawanya dengan memastikan tidak bersentuhan secara langsung dengan tangannya. Seperti membawa mushaf dengan lengan bajunya. Dan Imam al-Kasani dari Hanafiyah menyebutkan bagi wanita yang sedangkan haidh atau junub dilarang menyentuh mushaf kecuali hanya sebatas covernya. 

6. Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran 

Hukum membaca al-Qur’an bagi wanita haidh ada dua pendapat:

a. Jumhur Ulama

Jumhur ulama yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa melafadzkan ayat-ayat Al-Quran termasuk hal yang diharamkan bagi wanita haidh. Diantara dalil yang mereka gunakan adalah :

لاَ تَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ

”Janganlah seorang yang sedang haidh atau junub membaca sesuatu dari Al-Quran” (HR. Tirmizy)

Imam al-Kasani (587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Hanafi menuliskan dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi as-Syarai’ sebagai berikut :

وَأما حكم الحيض والنفاس فمنع جواز الصلاة، والصوم، وقراءة القرآن، ومس المُصحف إلا بغلاف، ودخول المسجد، والطواف بالبيت

“Hukum bagi wanita haid dan nifas,  tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca al-Qur’an, memegang mushaf kecuali sampul, masuk masjid, dan thawaf di Baitullah”.

Al-Khatib Asy-Syirbini (977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Syafi’i menuliskan dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj sebagai berikut :

و ثانيهما : ( القرآن ) لمسلم أي ويحرم بالجنابة القرآن باللفظ وبالإشارة من الأخرس . كما قال القاضي ِي فتاويه فإنها منزلة منزلة النطق هنا , ولو بعض آية كحرف للإخلال بالتعظيم , سواء أقصد مع ذلك غيرها أم لا , ولحديث الترمذي وغيره)لا يقرأ الجنب ولا الحائض شيئا من القرآن)

“Larangan kedua bagi wanita haidh dan nifas adalah membaca Al-Qur’an. Haram bagi seorang muslim membaca Al-Quran dalam keadaan junub dengan melafadzkannya, dan dengan isyarat bagi seorang yang bisu, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qadhi Husein dalam fatwa-fatwanya : “Dalam masalah ini memberikan isyarat sama kedudukannya dengan melafadzkannya. Meskipun sebagian ayat seperti satu huruf dalam Al-Quran karena hal itu bisa menjatuhkan kehormatan Al-Quran. Sama saja jika dia menggabungkan niat membaca dengan niat selainnya (berdzikir) ataupun tidak, sebagaimana yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan yang lainnya “ haram bagi seorang junub dan seorang wanita haid membaca Al-Quran”.

Mazhab Al-Hanafiyah membolehkan membaca ayat Al-Qur’an bagi wanita haidh, asalkan lafadznya merupakan doa  atau zikir, asalkan niatnya bukan membaca Al-Quran. 

Madzhab Hanafi juga membolehkan bagi para pengajar al-Qur’an mengajar al-Qur’an huruf perhuruf atau kata perkata tidak membacakan ayat al-Qur’an secara sempurna. Adapun di dalam madzhab Syafi’i, haram hukumnya membaca al-Qur’an walaupun hanya sebagian atau potongan ayat, namun boleh membacanya di dalam hati, melihat kepada mushaf atau berkomat kamit, dengan suaranya tidak terdengar sendiri oleh dirinya.  

Sedangkan dalam madzhab Hambali boleh membaca potongan ayat. Yang diharamkan adalah membaca sampai satu ayat atau lebih. 

b. Madzhab Maliki dan Azh-Zhohiri

Kedua madzhab ini membolehkan wanita haidh melafazkan Al-Qur’an  yang membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran. Mazhab Malikiyah mengecualikan dengan syarat atau alasan karena takut lupa akan hafalannya bila masa haidhnya terlalu lama, atau karena tujuan ta’lim. Ad-Dasuki menyebutkan: 

وَالْمُعْتَمَدُ مَا قَالَهُ عَبْدُ الْحَقِّ وَهُوَ أَنَّ الْحَائِضَ إذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا لا تَقْرَأُ حَتَّى تَغْتَسِلَ جُنُبًا كَانَتْ أَوْ لا إلا أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ كَمَا أَنَّ الْمُعْتَمَدَ أَنَّهُ يَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَالَ اسْتِرْسَالِ الدَّمِ عَلَيْهَا كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لا خَافَتْ النِّسْيَانَ أَمْ لا كَمَا صَدَّرَ بِهِ ابْنُ رُشْدٍ فِي الْمُقَدِّمَاتِ وَصَوَّبَهُ

“Pendapat yang mu’tamad adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abdul Haq yaitu : wanita yang telah selesai masa haidnya tidak boleh membaca al-Quran hingga dia mensucikan diri dengan mandi janabah, baik itu sebelumnya dia junub ataupun tidak, kecuali jika dia khawatir akan lupa hapalannya. Pendapat yang mu’tamad dalam mazhab ini adalah bolehnya wanita haid membaca al-Quran baik itu ketika masa-masa keluarnya darah haid serta sebelumnya dia sedang junub ataupun tidak karena mengkhawatirkan lupa hapalannya ataupun tidak. Sebagaimana yang telah dipaparkan dan dibenarkan oleh Ibnu Rusyd Al-Jaddu (w 520 H) di dalam kitabnya Al-Muqaddimat.” 

Ibnu Rusyd (w. 595) menegaskan dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid :

فأجازوا للحائض القراءة القليلة استحسانا؛ لطول مقامها حائضا، وهو مذهب مالك.

Para ulama yang membolehkan wanita haidh membaca sedikit Al-qur’an dengan dalil Istihsan, karena lamanya masa haidh.  Ini adalah pendapat madzhab Maliki.

Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :

الثامن في الطراز يفارق الجنب الحائض في جواز قراءة القرآن ظاهرا ومس المصحف للقراءة على المشهور في الحائض لحاجة التعليم وخوف النسيان.

"Hukum kedelapan: Dalam Kitab Ath-Thiraz : Hukum terhadap wanita haidh dan junub itu dalam kebolehan  membaca  Al-qur’an itu berbeda, begitu juga menyentuh mushaf. Dalam membaca Al-Qur’an, pendapat yang masyhur adalah dibolehkan bagi wanita haidh untuk kegiatan mengajar dan dan karena takut lupa. “

وأما جواز القراءة فلما يروى عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهي حائض والظاهر اطلاعه عليه السلام وأما المنع فقياسا على الجنب والفرق للأول من وجهين أن الجنابة مكتسبة وزمانها لا يطول بخلاف الحيض.

“Kebolehkan bagi  wanita haid membaca Al-Quran, berdasarkan riwayat dari Aisyah RA, bahwasannya Aisyah pernah membaca Al-Quran dalam keadaan haid, dan itu dengan sepengetahuan Rasulullah. Adapun larangan Membaca Al-Quran ini diqiyaskan kepada hukumnya orang junub. Berdasarkan pendapat pertama, karena membedakan antara keadaan orang yang junub dan haidh dalam dua segi;  kalau junub terjadi karena kehendak yang melakukan, beda dengan wanita haid. Dan masa junub tidaklah selama masa haid.

7. Masuk ke Masjid dan Menetap

Masuknya wanita haidh ke masjid terjadi sedikit khilaf dikalangan ulama. Madzhab Syafi’i membolehkan wanita haidh masuk masjid kalau hanya sekedar lewat tanpa berdiam diri, begitu juga madzhab hambali membolehkan kalau sekedar berlalu karena ada hajat atau keperluan dan madzhab Maliki membolehkan kalau dalam kondisi darurat, sedangkan madzhab Hanafi mengaharamkan secara mutlak bagi wanita haidh masuk masjid, baik sekedar lewat apalagi sampai berdiam diri. 

Secara umum mereka bersepakat bahwa haram hukumnya wanita haidh berdiam diri di masjid, misalkan untuk i’tikaf, belajar dan kegiatan yang mengharuskan berdiam diri di masjid.  

Dasarnya adalah ayat Al-Quran dan sunnah nabawiyah berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ 

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu salat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi.(QS. An-Nisa' : 43)

لاَ أُحِل الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ‘Tidak kuhalalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh’. (HR. Abu Daud)  

Salah satu hujjah bagi wanita haidh boleh masuk masjid sekedar berlalu saja selain ayat di atas, adalah hadis nabi SAW. Beliau Saw mengatakan kepada Aisyah radhiallahuanha :

بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللهِ ( فِي الْمَسْجِدِ. فَقَالَ يَا عَائِشَةُ نَاوِلِيْنِي الثَّوْبَ. فَقَالَتْ: إِنِّي حَائِضٌ. فَقَالَ : إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ فَنَاوَلَتْهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu berkata bahwa ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sedang berada didalam masjid beliau berkata: “Hai ‘Aisyah! Ambilkan pakaianku. Aisyah berkata: Sesungguhnya saya sedang haid. Beliau berkata: Sesungguhnya darah haidmu bukan ditanganmu. Kemudian Aisyah mengambilkannya. (HR. Ath-Thabrani)

8. Bersetubuh 

Wanita yang sedang mendapat haid haram melakukan jima’ bersetubuh dengan suaminya. Keharamannya ditetapkan oleh Al-Qur’an Al-Karim berikut ini: 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

‘Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci . Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(QS. Al-Baqarah : 222)

Para ulama memahami ayat di atas mengharamkan jima’. Hal ini diperkuat oleh hadis nabi SAW:  

عَنْ أَنَسٍ رضيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اليَهُودَ كَانت إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ فِيْهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا فَقَالَ النَّبِيُّ ( اصْنَعُوا كُلَّ شَىءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

‘Dari Anas radhiyallahuanhu bahw  Orang yahudi bisa para wanita mereka mendapat haidh tidak memberikan makanan. Rasulullah SAW bersabda"Lakukan segala yang kau mau kecuali hubungan badan". (HR. Muslim). 

a. Keharaman Melakukan Hubungan Suami Istri

Makna nikah pada hadis di atas bukan bermakna akad nikah, melainkan melakukan hubungan suami istri atau jima’dalam arti yang sesungguhnya, yakni terjadinya dukhul atau penetrasi.

Adapun kalau sekedar percumbuan, maka para ulama memberikan pengecualian dan batasan-batasan. Mereka membolehkan percumbuan yang dilakukan dengan isterinya itu, di anggota tubuh selain yang ada di antara pusar dan lutut isteri. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah RA :

وَعَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا قَالَت: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

"Dari Aisyah RA beliau berkata : Rasululullah SAW menyuruhku untuk memakai sarung, kemudian beliau mencumbuiku dalam keadaan haid." (Muttafaq Alaih)

Dalam hadits yang lain dari Aisyah RA:

"Jika salah satu dari kami (isteri Nabi) ada yang haid, dan Rasulullah SAW ingin mencumbuinya, maka beliau Saw menyuruh isterinya yang haid itu untuk memakai kain sarung, kemudian beliau mencumbuinya." (HR. Bukhari)`.

Dalam hadits dari Ummul Mukminin Maimunah RA:

“Rasulullah Saw mencumbui isterinya dalam keadaan haid, apabila isterinya itu memakai sarung” (HR. An-Nasa’i)

b. Batasan Mencumbui Bagian-Bagian Antara Pusar dan Lutut Isteri Saat Haid

Ketika para ulama membolehkan percumbuan dengan selain yang ada di antara pusar dan lutut, lalu bagaimana hukumnya mencumbui bagian itu jika tidak sampai terjadi jima'?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat sebagaimana berikut :

1)  Madzhab Hanafi

Ulama dalam madzhab ini membolehkan seorang suami untuk mencumbui anggota tubuh isterinya yang ada di antara lutut dan pusarnya. Dengan syarat, percumbuan itu terjadi dengan adanya penghalang, seperti sarung, kain, atau sejenisnya. Namun suami tidak boleh melihat bagian-bagian tersebut.

Suami boleh memegang bagian-bagian itu, dengan atau tanpa syahwat, selama bagian-bagian itu ditutupi dengan penghalang. Intinya tidak terjadi sentuhan kulit secara langsung dan tidak boleh melihat.

2) Madzhab Maliki

Ulama dalam madzhab ini berbeda dengan madzhab Hanafi. Fuqaha’ dalam madzhab Maliki mengatakan bahwa seorang suami dilarang memegang dan mencumbui anggota tubuh istri yang ada di antara lutut dan pusarnya pada saat isterinya itu sedang mengalami haid, walaupun itu dibatasi dengan kain penghalang. Namun mereka membolehkannya untuk melihat bagian-bagian tersebut, walaupun dengan syahwat.

Madzhab ini berpendapat bahwa suami hanya boleh melihat atau memandang bagian-bagian yang ada diantara pusar dan lutut isterinya itu, tanpa boleh mencumbuinya lebih jauh. 

3) Madzhab Syafi’i

Ketika seorang isteri dalam keadaan haid, suaminya boleh mencumbuinya itu di bagian mana saja yang diinginkan. Hanya saja, percumbuan itu harus dibatasi dengan kain penghalang, sehingga tidak ada sentuhan kulit secara langsung.

Madzhab ini juga membolehkan suami untuk melihat dan memandang bagian-bagian itu, dengan atau tanpa syahwat.

Sedangkan dalam madzhab Syafi’i, seorang suami boleh mencumbui isterinya yang sedang haid di bagian-bagian yang ada diantara pusar dan lutut dalam batasan : boleh melihatnya, dan boleh mencumbu dengan adanya penghalang, sehingga tidak terjadi sentuhan kulit secara langsung.

4) Madzhab Hambali

Agak berbeda dengan ketiga madzhab diatas, madzhab Hambali membolehkan suami mencumbui isterinya yang sedang haid di bagian manapun yang ia inginkan. Syaratnya tidak sampai terjadi jima’ yang sesungguhnya, yakni dukhul (penetrasi).

Seorang suami boleh mencumbui isterinya di bagian-bagian yang ada di antara pusar dan lutut, kecuali organ intim, baik itu dengan melihat ataupun menyentuh, dengan atau tanpa penghalang.

Namun demikian, para ulama dalam madzhab ini menganjurkan isteri yang sedang haid untuk menutupi organ intimnya dengan penghalang selama percumbuan dilakukan.

Al-Mardawi (w. 885 H.), salah satu ulama dalam madzhab Hambali mengatakan dalam kitabnya “Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf” bahwa jika seorang suami tidak yakin bisa menahan syahwatnya, dan kuatir akan terjadi jima’ apabila mencumbui bagian tubuh isterinya yang ada diantara pusar dan lutut, maka haram baginya mencumbui isterinya di bagian itu. Sebab menghindari itu akan membuat dirinya lebih selamat dan tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.


عَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا قَالَت: كَانَ رَسُولُ اللهِ ( يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

”‘Dari Aisyah radhiyallahuanhaberkata"Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk memakain sarung beliau mencumbuku sedangkan aku dalam keadaan datang haidh". (HR. Muslim). 

Keharaman menyetubuhi wanita yang sedang haid ini tetap berlangsung sampai wanita tersebut selesai dari haid dan selesai mandinya. Ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, dan As-Syafi’iyah.

c. Kaffarat Menyetubuhi Wanita Haidh 

Apabila seorang wanita sedang haid disetubuhi oleh suaminya maka ada hukuman bagi sang suami menurut al-Hanabilah. Besarnya adalah satu dinar atau setengah dinar dan terserah memilih yang mana. Ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW berikut : 

عَن ابنِ عَبَّاسٍ رضيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ ( فِي الذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ قَالَ: يَتَصَدَّقُ بِدِيْنَارٍ أَوْ بِنِصْفِ دِيْنَارٍ

 ‘Dari Ibn Abbas dari Rasulullah SAW bersabda tentang orang yang menyetubuhi istrinya dalam keadaan haidh : ‘Orang yang menyetubuhi isterinya diwaktu haid haruslah bersedekah satu dinar atau setengah dinar’ (HR. Khamsah) 

As-Syafi’iyah dan Al-Hanafiyah memandang bahwa apabila terjadi kasus seperti itu tidaklah didenda dengan kafarat melainkan hanya disunnahkan saja untuk bersedekah. Satu dinar bila melakukannya diawal haid dan setengah dinar bila diakhir haid. 

Namun umumnya para ulama seperti Al-Malikiyah dalam pendapatnya yang terbaru tidak mewajibkan denda kafarat bagi pelakunya cukup baginya untuk beristighfar dan bertaubat. Sebab hadis yang menyebutkan kafarat itu hadis yang mudhtharib sebagaimana yang disebutkan oleh al Hafidz Ibn Hajar. 

9. Menceraikan Istri

Seorang yang sedang haid haram untuk bercerai, dan apabila dilakukan maka status thalaqnya adalah thalaq bid’ah. Dalilnya adalah : 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لاَ تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلاَ يَخْرُجْنَ إِلاّ أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لاَ تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

‘Hai Nabi apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat iddahnya dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.’ (QS. At-Thalaq : 1) 

Secara hukum fiqih meski termasuk thalaq bid’ah,  tetapi dari segi hukum thalaq tetap jatuh dan sah sebagai thalaqnya dan suami yang menjatuhkan thalaq tersebut berdosa. Dan suami yang terlanjur menceraikan dianjurkan untuk segera merujuk istrinya pada saat haidh itu juga. Sebagaimana hadis Nabi SAW yang memerintahkan kepada Umar ketika anaknya menceraikan istrinya dalam keadaan haidh :

"مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ، ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ“ 

“Suruhlah (Ibnu Umar) meruju’ istrinya, kemudian pertahankan , istrinya sampai dia suci, kemudian haidh, kemudian suci, maka jika dia ingin tetap mempertahankannya setelahnya, atau ingin memceraikannya sebelum dia menyetubuhinya. Itulah iddah (waktu) yang diperintahkan oleh Allah untuk menthalaq para wanita. (HR. Abu Daud)

Wallahua’lam

Judul Buku

Larangan-larangan Wanita Haidh

Penulis 

Isnawati,Lc., MA

Editor

Faqih


Daftar Pustaka:
Al-Buhuti, Kasysyaf al-Qinna’.
Ad-Dasuqi, Hasyiyah ad-Dasuqi.
Ibnu Abdin, Hasyiyah Ibni Abdin.
Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’.
Al-Khatib as-Syirbini, Mughni al-Muhtaj.
Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah.
Al-Imam an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.
Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah.
Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf.
Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas