Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Bahanya Vape atau Rokok?

Vape, Produk Tembakau Alternatif dan Rokok Konvensional

Bahaya Vape atau Rokok

Belakangan ini, tren pengadaan dan penggunaan rokok elektrik di Indonesia semakin meningkat dan mudah diperoleh di pasaran.

Di beberapa negara, rokok elektrik telah digunakan sebagai alternatif pengganti rokok konvensional oleh masyarakat. Jenis ini diklaim sebagai rokok yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan tidak menimbulkan bau, serta lebih hemat karena bisa diisi ulang.

Produk alternatif ini dikatakan dapat menurunkan risiko kesehatan yang ditimbulkan, dibanding produk tembakau bakar yang selama ini sudah sangat familiar di Indonesia. 

Ragam zat di dalam rokok konvensional dituduh menyebabkan berbagai penyakit berbahaya. Bahkan peringatan akan bahaya merokok dituliskan secara gamblang di bungkusnya. Kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin adalah beberapa di antaranya.

Tahun 2004, rokok elektronik atau yang disebut oleh WHO sebagai Electronic Nicotine Delivery System (ENDS) diluncurkan dan menjadi primadona di antara NRT. Nicotine Replacement Therapy (NRT) – terapi pengganti nikotin, merupakan metode yang menggunakan suatu alat untuk memberikan nikotin yang diperlukan perokok tanpa melalui proses pembakaran tembakau yang merugikan.

Di samping itu NRT juga sering digunakan dalam program berhenti merokok untuk mencegah withdrawal effect nicotine dengan cara menurunan dosis nikotin secara bertahap.Beberapa NRT yang telah beredar dan dikenal luas berbentuk permen karet, inhaler, tablet hisap, nasal spray, dan skin patch.

Namun demikian ENDS merupakan produk yang paling banyak diminati jika dibandingkan dengan NRT yang lain. Hal ini dikarenakan bentuk dan cara pemakaiannya yang mirip dengan merokok namun tanpa pembakaran tembakau sehingga menimbulkan sensasi yang merokok pada penggunanya. ENDS terdiri dari 3 bagian: baterai, atomizer (bagian yang memanaskan dan menguapkan larutan nikotin), dan cartridge yang berisi larutan nikotin.

Cara penggunaan ENDS seperti merokok biasa, saat dihisap, lampu indikator menyala serupa api di ujung rokok, hisapan akan mengaktifkan baterai untuk memanaskan larutan nikotin dan menghasilkan uap yang akan dihisap pengguna.

Kemunculan jenis ENDS dianggap aman karena tidak mengandung tar, tembakau, dan zat-zat toksik lain yang umum terdapat akibat pembakaran rokok tembakau. Rata-rata hisapan ENDS setara dengan 3,36 mg nikotin per hari, jauh lebih rendah dari rokok tembakau yaitu 14-21 mg. Polisiklik Hidrokarbon Aromatik (PHA) dalam ENDS kadarnya juga sangat rendah dan tidak dapat diukur, berbeda dengan tembakau. PHA merupakan senyawa yang ditemukan pada asap rokok tembakau dan sering dikaitkan dengan kejadian kardiovaskular.

Jenis lain rokok elektrik yang sudah familiar, adalah vape. Rokok ini memanaskan cairan tembakau menggunakan baterai dan uapnya masuk ke paru-paru pemakai. Produk itu dipasarkan dengan banyak nama, di antaranya rokok elektronik, ecigarro, electro-smoke, green-cig, dan smartsmoker. Ragam produk tembakau alternatif lain, semisal nikotin tempel, tembakau yang dipanaskan, snuff, atau snus dan lainnya.

Rokok elektronik atau produk tembakau alternatif lainnya dianggap sebagai alat penolong bagi mereka yang kecanduan rokok supaya berhenti merokok. Alat ini dipasarkan sebagai alternatif yang lebih aman dari produk tembakau biasa. Tak jarang mereka juga secara sukarela mencantumkan label “health” yang terpasang jelas pada kemasannya.

Produk tembakau alternatif lalu muncul untuk mengatasi adiksi rokok. Konsep pengurangan risiko merupakan strategi ilmu kesehatan yang bertujuan mengurangi konsekuensi negatif kesehatan dari sebuah produk atau perilaku. Jenis rokok yang dibakar lebih punya dampak bahaya ketimbang jenis rokok yang tidak dibakar.

Dalam pandangan peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indonesia (YPKP), dr. Drg. Amaliya, MSc, PhD, menyebut nikotin murni tak bermasalah, yang masalah adalah zat sampah dalam bentuk tar, yang muncul setelah ia dibakar.

Tembakau yang dibakar akan mengeluarkan kurang lebih 4000 senyawa kimia, 50 di antaranya merupakan karsinogen dan 400 lainnya termasuk golongan racun, seperti tar, karbon monoksida, formaldehid, amonia, hidrogen sianida, dan DDT. Efek pembakaran tembakau sering dikaitkan dengan gangguan kesehatan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, Departemen Kesehatan Amerika Serikat, kanker paru-paru paling banyak diidap oleh perokok. Merokok sigaret dikaitkan dengan 80-90 persen kejadian kanker paru. Merokok juga meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, menurunkan kolesterol baik (HDL), serta menaikkan kolesterol jahat (LDL).

WHO memperkirakan, jumlah kematian akibat tembakau bakar mencapai enam juta jiwa per tahun. Jumlah ini diprediksi akan meningkat menjadi delapan juta jiwa per tahun pada 2030. Di Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan total kerugian akibat rokok selama 2013 mencapai Rp378,75 triliun.

Nah, dari sini bisa disebutkan bahwa jenis rokok elektrik atau ENDS serta produk tembakau alternatif lainnya jauh lebih banyak mengurangi bahaya dan dianggap lebih sehat dari rokok konvensional yang dibakar. 

Menurut data dari Public Health England (PHE) tahun 2015, agensi kesehatan independen di bawah Kementerian Kesehatan Inggris, dari produk nikotin yang dipanaskan saja dapat menurunkan risiko kesehatan hingga 95 persen.

Fiqih tembakau

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas

Berlangganan via Email