Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Pentingnya menata niat


Dalam sebuah riwayat:

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Hadis yang menerangkan niat tersebut pada umumnya menempati atau ditulis pada permulaan kitab-kitab yang menghimpun hadits, seperti hadits sahih Bukhori, arba'u an Nawawi dll. Juga kitab-kitab usul fikih.

Sudah sangat banyak sekali para ulama'yang menerangkan tentang keutamaan dan pentingnya niat, Bisa dibilang niat adalah jantungnya Amal perbuatan. Para pakar ilmu usul berpendapat bahwa niat adalah sepertiga dari Islam atau sepertiga dari disiplin ilmu dalam islam

Definisi niat pada umumnya adalah: keinginan dalam hati untuk melakukan sesuatu (aktivitas) bersamaan dengan sesuatu (aktivitas) tersebut.

Niat inilah yang membedakan antara sholat dan senam, antara wudhu dan cuci muka, yang membedakan antara hal-hal yang ukhrowi dan duniawi. Dan juga pembeda antara amal-amal wajib dan Sunnah.

Lebih umum lagi, niat inilah yang membedakan antara amal perbuatan yang kita peruntukan semata kepada Allah dari amal-amal yang kita peruntukan selain kepada Allah.

Dalam kitab bidayatul hidayah Al Ghozali menjelaskan bahwa terkadang-kadang Amal yang nampak duniawi tapi menjadi ukhrowi karna niat yang benar dan sebaliknya terkadang Amal yang secara lahiriyah nampak ukhrowi namun pada hakikatnya duniawi karna niat yang salah.

Mulai menata niat

Kita bisa mulai menata niat dari hal-hal yang sederhana dari aktivitas kita sehari-hari, sekalipun aktivitas itu hukumnya mubah, seperti makan dan minum, berpakaian dan berpenampilan, juga dalam bertegur sapa.

Hal ini sangat penting, mengingat kita sering melupakannya hanya karena sudah menjadi rutinitas. Kalau lapar ya makan, kalau keluar rumah ya pakai pakaian, capek ya istirahat, ngantuk ya tidur, ketemu teman dijalan ya disapa.

Kita sering melupakan mahsud dan tujuan dari aktivitas kita itu dan akhirnya peran Allah pun tidak ada dalam hidup kita, dan pada gilirannya justru akan dimasuki motif-motif/niat-niat lain yang salah.

Berpenampilan untuk pamer pakaian yang mahal dan branded, Ramah pada orang agar dianggap baik, bekerja tiap hari hanya demi ambisi duniawi.

Padahal saat berpakaian bisa kita niatkan menutup aurat, berpenampilan yang bagus dan berhias semata-mata karena Allah cinta keindahan.

Saat kita makan kita niatkan menguatkan badan agar bisa beribadah, mencari nafkah untuk keluarga, untuk sedekah dan berjuang dijalan Allah.

Begitupun saat kita bertegur sapa, main kerumah teman atau sekedar basa basi,  bisa kita niatkan idkholu as Surur (membahagiakan/menggembirakan) orang lain, silaturrahmi dan niat-niat mulia yang lain.

Kiranya dengan demikian, yaitu meniatkan segala sesuatu hanya untuk Allah kita termasuk orang-orang yang disebut Al-Qur'an sebagai "muhlisiina lahu ad-diin" (orang-orang Yang tulus dalam beragama).
Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas