Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memahami hakekat amal Ma'aruf nahi mungkar

Perbedaan mendasar amal Ma'aruf nahi mungkar antara Wahabi, FPI dan NU


Antara FPI dan NU memang sama-sama berfaham ahli Sunnah wal jama'ah, tapi dalam hal amar makruf nahi mungkar keduanya sangat nampak berbeda sekali.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

Man ra’a minkum munkaran, fal-yughayyir biyadih, fa-inlam yasthathi‘ fa-bilisanih, fa-inlam yasthathi‘ fa-biqalbih, wa dzalik min adl‘af al-iman

"Siapa pun di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia mengatasinya de­ngan ‘tangannya,’ jika tidak mampu maka de­ngan ‘lisannya,’ jika tidak mampu maka [menyesali saja dalam] 'hatinya.’ Itu termasuk pa­ling lemahnya iman".

Wahabi memahami bah­wa siapa pun yang melihat kemungkaran harus bertindak secara fisik, jika tidak mampu cukup de­ngan ucapan, dan jika tidak mampu cukup menyesali dalam hati.
Tentu hal ini sama persis dengan apa yang dilakukan FPI, seperti razia miras, swepping di bulan ramadhan dll. hanya saja mereka berkelompok.

Sedangkan Para ula­ma NU lazim memahami ha­dits ini bah­wa aksi secara fisik adalah otoritas pe­me­rin­tah/pengu­a­sa, bukan otoritas in­di­vidual. Se­dang­kan yang ke­dua, de­ngan lisan (dan para ula­ma meyakini juga dengan tulisan), adalah wilayah yang bisa diperankan oleh individu-idividu yang alim/berpengetahuan, mengerti masalah aga­ma secara mendalam. Tidak mampu memberi pe­ringat­an secara lisan maupun tulisan, ha­nya menyesali dalam hati, menunjukkan lemahnya iman. Karena orang yang demikian, salah satunya bodoh karena tidak belajar un­tuk meningkatkan pengetahuannya, atau malas dan tidak mau tahu de­ngan permasalahan ma­sya­ra­katnya.

Opini

Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas

Berlangganan via Email