Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Isra' mi'raj adalah peristiwa yang wajib kita yakini

Setiap orang mukallaf (baligh dan berakal) wajib beriman bahwasanya nabi Muhammad pernah di isra' dan mi'raj kan


Peristiwa Isra' mi'raj tersebut terjadi setahun sebelum nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.

Isra' adalah perjalanan nabi Muhammad SAW dimalam hari dari Makkah sampai Baitul Maqdis.

Mi'raj adalah naiknya nabi Muhammad SAW ke langit tingkat 7 sampai sidrotul Muntaha dan Al mustawa.

Ketika nabi Muhammad SAW mi'raj beliau menerima firman Allah SWT. agar Nabi Muhammad SAW beserta umatnya melaksanakan sholat Lima waktu. Ketika mi'raj tersebut nabi Muhammad SAW menyaksikan Allah SWT. Yang mana peristiwa tersebut tidak bisa digambarkan atau di ilustrasi kan.

Setelah isra' mi'raj nabi menceritakan peristiwa tersebut dan perihal perintah Allah untuk melaksanakan sholat 5 waktu.

Dan orang yang pertama kali percaya dan beriman akan peristiwa isra' mi'raj tersebut adalah sahabat Abu bakar As Shiddiq.

Pelajaran-pelajaran ini dan sebelumnya, yaitu sifat-sifat Allah, sifat-sifat Rasul, nama-nama 25 nabi, 4 kitab samawi dan shuhuf, nama-nama malaikat, nasab nabi Muhammad dan lain-lain. Kesemua itu kami tulis, kami ambil, kami terjemahkan secara ringkas dari kitab Aqidatul Awam, yaitu kitab yang ditulis oleh Sayyid Ahmad Marzuki yang masih punya hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. dan diterjemahkan dalam bahasa Jawa pegon oleh kiyai Bisri Mustofa Rembang.

Kitab Aqidatul Awam adalah kitab yang sangat ringkas memuat hal-hal yang wajib kita ketahui sebagai orang mukallaf.

Pada umumnya kitab ini dipelajari murid-murid pesantren yang baru nyantri di pondok pesantren (santri baru)

Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat, penulis tahu masih banyak kekurangan di sana-sini, penulis juga masih belajar, ditulisan pertama penulis sangat sadar bahwa selama ini banyak hal-hal yang luput dari perhatian, meskipun penulis dulu sudah pernah khatam dan hafal kitab Aqidatul Awam.

Kurang lebihnya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas