Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Corona dan ketidak pedulian warga Indonesia

Status Corona dari sudut pandang agama menurut Quraish Shihab.

Dalam video call yang berdurasi 4:51 menit yang diunggah Shihab & Shihab di YouTube tersebut Quraish Shihab menjawab pertanyaan Najwa Shihab

"Apa benar virus Corona adalah tentara Allah yang sengaja diturunkan untuk menghukum manusia?"

Beliau menjawab
"Memang terlalu banyak berita, tulisan dan sebagainya yang simpang siur, ada yang tidak bertanggungjawab dan ada juga memang yang ada kebenarannya.

Dalam konteks menanggapi bencana Corona ini, Abi Quraish Shihab tidak sependapat dengan mereka yang berpendapat bahwa ini adalah siksa Allah, karena ini melanda dunia, mengenai orang-orang baik dan orang-orang yang tidak berdosa. Apakah mereka itu disiksa juga?

Abi Quraish lebih senang untuk menyatakan bahwa ini adalah bencana yang merupakan ujian dan peringatan dari Allah untuk umat manusia, yang dewasa ini seringkali angkuh dan merasa diri mampu melakukan segala sesuatu. 

Memang, didalam Al-Qur'an surat Al Anfal Allah berfirman:

وَاتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ

"Hati-hatilah datangnya suatu bencana, ujian yang bisa menimpa bukan hanya orang-orang durhaka dan zalim diantara kamu".

Jadi ini bencana berupa ujian. Memang kita juga harus sadar bahwa orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang yang dekat kepada Allah yang wafat Karena bencana ini, itu akan dapat nikmat dan ganjaran dari Allah SWT.

Didalam hadist, Nabi menyatakan bahwa mereka yang wafat karena tha'un, suatu penyakit yang mewabah pada masa nabi atau sahabat-sahabat nabi, mereka yang wafat itu dinilai sebagai shahid.

Tentu saja shahidnya tidak sama dengan mereka yang gugur dalam peperangan membela kebenaran.
Tapi shahidnya ini dinamai shahidul akhirat, jadi mereka tetap dimandikan disholatkan dikafankan, berbeda dengan yang gugur dijalan Allah tidak dikafankan tidak dimandikan dan seterusnya. 

Tapi ganjaran yang diperoleh dari Allah karena kematiannya akibat virus ini, itu serupa dengan ganjaran orang-orang yang meninggal dimedan perang.

Ya, selanjutnya kita bisa berkata begini, bahwa virus-virus itu, sebenarnya dapat juga dinamai sebagai setan-setan. Karena itu Abi juga tidak sependapat dengan mereka yang menamai virus-virus itu sebagai tentara-tentara Allah.

Didalam Al-Qur'an dan hadits-hadits nabi, kita menemukan bahwa penyakit diakibatkan oleh setan, mari kita baca ayat Alquran yang bercerita tentang nabi Ayyub yang menyatakan:

أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

"Setan telah menimpa aku dengan penyakit yang melelahkan dan menyiksa"

Dia namai penyakit itu disebabkan oleh setan atau dengan kata lain virus-virus. 

Nabi juga mengisyaratkan bahwa virus-virus tha'un itu adalah ulah setan, ulah jin, dan kita ketahui bahwa  jin adalah sesuatu yang tersembunyi, salah satu diantaranya adalah virus-virus itu, demikian banyak ulama' mengartikan makna jin. Dan karena itu kalau dia setan, kita harus memusuhi, kita harus hindari dan kita harus perangi".

Lalu bagaimana kita melawan corona?

Tentu tidak dengan pasang badan dan merasa tidak akan terkena virus, apalagi dengan menyebar hastag "saya tidak takut" dimedia sosial. Melawan corona harus dengan instruksi dari badan kesehatan dan pemerintah, misalnya selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan, menghindari tempat keramaian, mengenakan masker untuk pengaman dan sebagainya.

Namun, Satu hal yang pasti dan sudah dibuktikan oleh sejarah berkali-kali bahwa Masyarakat yang hidupnya cenderung susah itu lebih berani dan lebih siap menghadapi mati daripada mereka yang hidupnya sejahtera.

Di Jerman, Belanda dan belahan bumi lainnya, terinfeksi flu saja bisa cuti kerja, karna flu dianggap penyakit serius. Sedangkan di negara dengan kode area +62 cuti kerja karna demam bisa kena PHK, apalagi sekedar flu saja.

Saat dunia dihebohkan oleh Corona kita menganggapnya biasa-biasa saja, corona tidak lebih sadis dari demam, TBC dan penyakit-penyakit lain yg sudah akrab dengan kita. Tak heran jika kemarin ada ilmuan dunia yang menghawatirkan Indonesia dalam menangani hal ini.

Ketika Corona sudah benar-benar masuk negara kita dan meregang ratusan nyawa kita masih tetap santai-santai saja, malah jadi bahan candaan dan lucu-lucuan. Hingga detik ini kita masih tidak peduli, sampai-sampai Jokowi mengeluarkan surat sakti.

Jangan egois, pikiran orang lain setidaknya kita pikirkan keluarga kita, tentu kita tidak ingin nasib buruk itu menimpa keluarga kita, tetangga kita dan teman-teman kita. Optimis dan yakin itu sangat baik tapi bersikap dan bertindak semaunya sendiri itu sembrono.

Jaga kesehatan dan tetap waspada, hindari tempat-tempat potensial untuk sementara waktu dan jangan lupa berdoa. Semoga kita semua selamat.
Pena Santri
Pena Santri Penulis lepas

Berlangganan via Email